Navigasi:Home » perasaan sayang » Haruskah sebuah perasaan sayang dihilangkan demi rasa cinta? (part 1)

Haruskah sebuah perasaan sayang dihilangkan demi rasa cinta? (part 1)

Ini adalah sebuah cerita pribadi yang bisa dibuat pelajaran hidup menjadi pribadi yang lebih matang. Diperlukan rasa ikhlas yang luar biasa untuk melakukannya. Kisah ini dimulai ketika rasa sayang tiba-tiba datang menghampiri tanpa disadari. Sebuah cerita cinta yang semestinya tak pernah hadir dalam kehidupanku. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan biasanya tak disadari tanpa direncanakan. Begitu pula dengan yang terjadi padaku. Saat kehadiraanya dalam hidupku, ini berarti Awal dari begitu banyak hal yang akan merubah semangat dan juga jalan hidupku.
Hari itu adalah hari yang kesekian kalinya aku datang ke kampus dan mengunjungi basecamp kesayanganku. Hari itu masih sama seperti hari sebelumnya. Bahkan aku saat itu selalu berpikir hari kemarin atau esoknya lagi akan selalu sama. Tak pernah ada yang berbeda. Memang aku tak pernah mengharapkan akan ada yang berubah. Sikapku yang santai dan menjalani semua hal apa adanya membuatku selalu berpikir tak akan pernah ada yang berubah dalam hidupku. Semua akan selalu sama baik esok hari atau esoknya lagi. Sungguh kehidupan sempurna yang tak pernah menginginkan apapun. Karena aku sangat sayang dengan basecamp kecilku, aku selalu menyapu lantai didepan basecamp. Tak hanya itu, aku selalu menyapu mulai dari sisi kiri hingga terus ke kanan. Ini berarti tak hanya basecampku saja yang bersih tapi beberapa basecamp lain juga ikut menjadi bersih karena kebiasaanku yang tak bisa melihat sapu bergagang kayu itu menganggur. Ini adalah kebiasaan yang bisa dibilang nyleneh. Disaat mahasiswa lain cenderung proaktiv dan hanya menyukai basecampnya sendiri tanpa peduli milik orang lain, aku tetap pada pendirianku untuk membersihkan semuanya. Anggap saja aku tukang sapu yang suka menyapu lanatai tanpa perlu dibayar. Yah, aku tetap tak peduli pendapat orang lain. asalkan aku merasa itu hal yang baik, pasti aku lakukan. Aku hanya prihatin banyak mahasiswa yang tak peduli tempat lainnya.

Dikala aku asyik menyapu, biasanya akan ada kawan lain yang selalu mengajak bercanda. Aku lebih sering tersenyum daripada menjawabnya. Setelah lantai bersih biasanya akan ada yang datang mendekat untuk sekedar cangkru’an atau mengobrol. Namun tak jarang akan ada mahasiswa yang akan menginjak-injak lantai tersebut tanpa mengerti susahnya mebersihkan lantai itu. Aku hanya akan diam melihat itu dan akan membersihkannya lagi dikala orang itu tak ada. Banyak yang mengira kawannya yang membersihkan lantainya padahal aku yang melakukannya. Aku hanya tersenyum mengingat hal itu. Kebanyak warga mahasiswa yang ada ditempat itu pasti paham bila kau yang menyapu lantai dan banyak yang sampai melepas sepatunya dikala akan melintas. Aku sampai sungkan akan hal itu. Aku menghormati mereka yang menghargai perjuangan setiap orang.
Hari itu seseorang datang ke basecampnya dengan agak gugup. Terlihat beberapa kawan sudah menyambutnya dikala dia datang. Biasanya Saat mendengar bunyi motor spesial tersebut saja kawan-kawannya langsung menyambutnya. Motor itu termasuk benda kesayanggannya yang tak pernah kutahu sejarahnya. Motor matic itu mungkin mempunyai sejarah yang luarbiasa dengan pemilknya. Kuingat motorku yang mempunyaiikatan batin kuat denganku. Motor yang berasal dari hasil usahaku sendiri itu selalu siap disaat aku membutuhkannya dan terlampau setia bagiku. Dia selalu tersenyum. Saat itu aku menganggapnya biasa saja. Ini adalah salah satu penyakit anehku. Aku selalu menganggap setiap orang baik itu orang penting, pejabat atau semuanya adalah sama dan biasa saja. tak ada hal yang menarik darinya. Hanya terlihat anggun dan menarik serta penuh semangat. Dia selalu mengenakan pakaian yang tergolong busana muslim. Sebuah hal yang memberi nilai positif. Busana muslim tak harus seperti gambaran banyak orang. Yang kumaksud disini adalah sifat dari busana muslim itu sendiri. Saat melihatnya aku hanya melihat sedikit hal yang berbeda darinya dibanding kawanku yang lain. Itu sebabnya aku lebih sering tak menghiraukannya. Aku lebih asyik menyapu atau mengutak-atik laptop jaman majapahit yang masih setia menemaniku. Ada yang menyebut laptop ini pernah dipakai angling dharma dalam mengatur strategi di masa lalu. Memang kawan-kawanku suka ngawur. Yang bener Mpu tantular yang pernah memakainya untuk mengetik kitab sutasoma yang legendaris itu :-D . Dia pernah sekali melihatku namun setelah itu kuperhatikan dia lebih sering melihat kawannya. Memang orang sepertiku tak akan terlihat menarik. Mana mungkin ada yang suka sama tukang sapu. Kalopun ada berarti dia adalah seorang tuan putri yang memilki hati sebening permata. Sebuah hal yang masih kucari hingga saat ini.
Kebanyakan orang selalu cuek pada orang lain namun dia sepertinya tidak seperti itu meski dia tak menyapaku. Terlihat jelas sifat setiap orang dari senyum dan raut wajah serta tingkah lakunya. Caranya berjalan yang saat itu agak gugup dan juga melangkah gontai saat sampun sampai ditempat tujuan menandakan jika dia sangat puas telah tiba ditempat ini. Seakan penuh perjuangan untuk sampai di basecamp itu. Bahkan aku pernah melihatnya duduk dipinggir pintu. Ini menandakan dia suka mengalah dari yang lain.
Pertemuan pertama ini hampir tak ada yang membuatku berikir bahwa dia sangat menarik. Hanya seseorang dengan paras yang cantik namun tak berlebihan dan bersikap biasa saja namun anggun dan energik. Namun kulihat sebuah beban yang berat di raut wajahnya seakan dia sedang memikirkan masa depan dan banyak rencana yang belum dilakukan. Ini bisa berarti ada tekanan entah dari hal apa tapi aku merasakannya saat itu. Aku cenderung berpikir seseorang yang masih bersikap luarbiasa disaat seperti itu adalah seseorang yang selalu ingin menjadi lebih baik. Namun itu hanya pemikiranku. Bisa saja apa yang kurasakan sebnarnya tidaklah benar.
Karena aku berada diluar basecamp, aku tahu pasti saat dia datang begitu pula saat dia keluar dari basecamp untuk pulang. Motor kesayangannya tersebut selalu setia mengantarkan ketempat yang menjadi tujuannya. Saat itu dia pulang dengan seakan dengan berpikir inilah hasil pertemuan kali ini dan aku harus begini dan aku harus begitu berdasarkan hasil keputusan. Seakan sudah terprogram jelas. Aku sediki mendengarkan apa yang disampaikan. Aku mendengar sedikit apa yang disampaikannya saat di dalam basecamp. Aku sedikit mendegar tentang hal itu karena kawanku lebih sering mengajakku mengobrol. Tapi dari situ aku tahu kalo dia tipe yang menghormati orang lain.
Praktis tak ada yang terlalu berkesan dihati. Hanya ada satu hal yang saat itu membuatku sangat mengingatnya. Saat masih kecil aku pernah bermimpi untuk bisa menjadi seseorang yang terlihat sangat bangga memperjuangkan negeriku. Aku lihat apa yang dipakainya sangat luarbiasa. Aku berpikir andai saja saat itu aku memilki apa yang dipakainya pasti akan membuatku bangga. Namun seperti halnya saat masih kecil, orang sepertiku tak akan pernah mampu memilki hal-hal seperti itu. Aku teringat saat masih kecil dikala kawan lain bisa membeli jajan, aku hanya bisa melihat. Sering aku menangis namun tak pernah berani bilang pada orangtuaku yang tergologn kurang mampu. Aku selalu berpikir mereka yang bisa membeli jajan tentu sangat beruntung. Itu sebabnya aku suka menabung. Saat kecil aku sering menyisihkan uang untuk kubelikan jajan buat adikku yang paling kecil. Kemanapun aku pergi, dia selalu kugendong. Aku ingat dia meminta jajan dan alhamdulillah masih tersisa sedikit uang yang kugenggam dijari kecilku. Aku selalu ingin membuat adikku bahagia dan tak menangis sepertiku. Meski uang yang kupunya amat sangat kecil nilainya tapi aku selalu menyimpannya. Aku saat itu terkenal suka menyimpan uang saku untuk membelikan jajan adikku. Pada saat itu tak banyak seorang kakak yang mau menggendong adik perempuan kecilnya kemanapun. Tapi aku tahu adikku akan menangis jika aku tinggal bermain. Mbak membantu orang tuaku bekerja disawah. bapak ibu tak akan pernah ada dirumah. Selalu disawah setiap waktu. Biasanya adik dititpkan pada mbahku namun karena beliau juga bekerja, tak jarang adikku berada dirumah sendirian. Aku masih teramat kecil saat itu jadi diperbolehkan main dengan teman sebayaku. Saat kulihat adikku menangis dan selalu ingin diajak bermain, akhirnya aku menggendongnya kemanapun aku pergi. DImana aku bermain, disitu dia ikut. Karena belum bisa berjalan, aku selalu membawanya saat sedang ikut bermain bersama kawan-kawan. Tak jarang aku tak ikut bermain karena tak mungkin bermain dengan menggendong adikku. Aku sering menghabiskan waktu bersama adikku. Pernah suatu ketika kawanku membeli es bantal dan aku bersama adikku hanya melihat. Orang tuaku tak pernah memberi uang saku untuk bermain. Aku sudah terbiasa dengan hal itu namun adikku akan menangis. Itu sebabnya aku selalu menyisakan uang sakuku untuknya. Jajan yang kami beli akan kami makan berdua. Terkadang aku yang mendapat bagian lebih banyak namun tak jarang adikku yang menghabiskan semuanya. Jikalau tak punya uang maka aku akan pergi dari tempat itu dengan mebawa adikku yang menangis. Biasanya adikkau akan cepat lupa bila kuajak bermain ke suatu tempat. Saat itu kami lebih sering lapar daripada kenyang tapi kami lebih sering tertawa. Pernah suatu ketika punggungku digigit adikku karena aku tak punya uang untuk membeli jajan dan ia kuajak pergi dari situ. Bekas gigitannya masih ada hingga sekarang. Saat itu aku menangis dan dia kuajak pulang. Setibanya dirumah bukannya dibelikan jajan, aku langsung dimarahi keluargaku. Ini karena mereka berpikir aku tak sanggup mengurus adikku sampai dia menangis.hingga adikku bersekolah, kami selalu bersama. Adikku mungkin tak begitu merasakan sakitnya saat lapar dan kawan lain membeli jajan sementara aku hanya menonton. Aku tak ingin adikku sepertiku. Bahkan hingga saat ini aku selalu memberi yang terbaik untuk adikku.
Back to the topic, aku melihat tak ada yang begitu berbeda darinya saat itu. Beberapa pertemuan selanjutnya akan menyadarkanku betapa dia sangat berbeda dan spesial. Bahkan hingga saat ini aku selalu berpikir bertemu dengannya adalah sebuah hal yang sangat bersejarah.
Kulihat apa yang kutulis ini sudah sangat panjang. Cerita selanjutnya akan dilanjutkan dalam posting selanjutnya. Karena posting ini ditulis apa adanya, apabila ada salah ketik atau penulisan, harap maklum. Pernah ada yang bertanya padaku, apakah aku menyukainya? aku hanya tersenyum seraya menjawab, orang sepertiku tak pantas menyukainya. Ia akan bahagia bila orang sepertiku tak ada disampingnya. Setidaknya itu yang kupikirkan saat itu hingga kini. Itu pula yang menjadi penyebabnya aku tak pernah lagi mengirim pesan secara langsung padanya.
Haruskah sebuah perasaan sayang dihilangkan demi rasa cinta? (part 1) ditulis oleh Mochammad RIfai pada 06 Maret 2012 . Berisi tentang ungkapan Cinta dan Tentang rasa Cinta yang sebaiknya tidak dirasakan demi rasa sayang padanya yang mendapat Rating: 5.0
Haruskah sebuah perasaan sayang dihilangkan demi rasa cinta? (part 1) mendapat rating 10 dari 10 bedasarkan 9874 rating dan 4269 review di Facebook.

0 komentar:

Posting Komentar

Ingin mengungkapkan Opini anda? Silahkan tulis pesan anda disini dan saya akan membalas dengan secepat mungkin. Trims. ^__^