Dengan langkah gontai aku menuju ke kamar mandi yang letaknya cukup jauh dari basecampku. Saat itu adalah sore hari dan seperti biasa, aku harus ikut latihan futsal, sebuah olahraga yang cukup bergengsi di kota tempat tinggalku saat ini. Posisi kamar mandi berada disebelah barat sedangkan tempatku berada saat ini berada disebelah timur. Jalan menuju kamar mandi agak menanjak dan melewati perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, kulihat ada beberapa orang yang sedang asyik duduk sambil membaca koran. Kebanyakan mahasiswa memang lebih asyik membaca koran daripada mempelajari literaturSengaja tak kutuliskan dengan jelas apa yang ada dalam kisahku ini. Semua itu dikarenakan ada privasi dari orang-orang yang ada dalam cerita ini. Semoga yang maha kuasa selalu memberikan rahmatnya kepada mereka yang kusebut disini. Amin (Arick / Mochammad RIfai – kenangan awal masa kuliah).
. Diserambi depan kulihat beberapa orang cewek sedang duduk sambil bercengkerama dengan kawan-kawannya. “Met siang arick” tiba-tiba seorang dari mereka menyapaku. “Oh, siang juga Er” jawabku dengan kaget sambil menghentikan langkah kakiku. “lagi ngapain” tambahku dengan spontan. Konyol sekali aku, tentu saja dia sedang hendak membaca buku karena dia sedang duduk diperpus. Kenapa aku tak berpikir begitu, pikirku dalam hati. “Ini lagi menunggu dosen datang. sepertinya jam kosong soalnya pengajar tak ada yang datang” jawabnya sambil tersenyum. ‘Untunglah pertanyaanku tak salah’ gumamku dalam hati. “Kamu hendak latihan Futsal?” dia menambahi dengan bersemangat. “Iya, seperti biasa, cuma sekedar main-main” jawabku seenaknya. “Wah enak dong” tiba-tiba dia bicara begitu. “Yah, nggak ada yang nggak enak kalo semua kita bikin enjoy” aku pun asal bicara saja.
“Aku pamit dulu, mau ganti baju” ucapku sambil mengelus kepalaku dan bersiap melangkahkan kaki. “Eh, bentar, tunggu dulu. Bolehkah kita bicara berdua saja” tiba-tiba dia berdiri dan tanganku dipegangnya hingga aku tak jadi melangkahkan kakiku. “Eh, terserahlah. Aku…” belum selesai aku mengucapkan kata-kata dia sudah menyeretku ke sebelah ruang kelas yang ada diselatan tempat kami berada. Ruang kelas itu agak terlindungi dan tak ada seorangpun disana. Tempat itu berada tepat didepan perpus. “kutinggal sebentar ya,..” Ujarnya pada kawan-kawannya yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan kami. Aku dibawanya ke tempat itu. Aku agak risih juga saat ada kawan yang memegang tanganku, apalagi itu seorang cewek. Bukannya aku tak suka tapi karena aku sungkan saja jika harus dilihat banyak orang. Belum lagi kawan-kawanku saat itu yang suka banget menggodaku jika melihat sesuatu. ‘Berani sekali dia menggandeng tangaku’ aku bergumam dalam hati. ‘kalalu pacarnya tahu bisa jadi masalah ini’ aku menundukkan kepala. Saat itu aku selalu berpikir cewek yang cantik pasti sudah punya pacar. Belum sempat aku memikirkan hal-hal buruk lainnya dia sudah membuyarkan lamunanku. “Hey, kok diam saja. Nggak suka ya kalo kuajak kesini?”. “Tentu saja aku suka” refleks saja aku menjawab begitu. Aku tak berani mengatakan yang sebenarnya ada dalam pikiranku. “Syukurlah” ujarnya dengan tersenyum riang. “Begini aku mau minta tolong” Tambahnya dengan semangat. “Kuharap kamu bisa membantuku” dia kembali tersenyum padaku. “Pasti aku bisa” jawabku penuh semangat. Inilah salah satu kelemahanku. Belum tahu bisa membantu apa tapi aku terlalu bersemangat dengan selalu meng-iyakan. “Begini, aku ingin kamu bisa mengajariku bahasa inggris. Kulihat kamu sangat luarbiasa saat dikelasku kemarin” Dia akhirnya mengucapkan permintaanya. “Oh, yang kemarin itu, Aku tak sengaja bisa. Hanya sekedar menjawab seadanya saja. Eh, tak sengaja kok betul semua.” Aku menjawab dengan merendah.
Aku dan dia berteman setelah hari pertama masuk kuliah. Secara tak sengaja dia dan beberapa kawan sekelasnya tak membawa peralatan kuliah. Syarat untuk ikut kuliah adalah membawa peralatan tersebut sehingga mereka ber-inisiatif untuk meminjam di kelas tetangga. Dia dan kawan sekelasnya akhirnya berangkat ke kelasku untuk meminjamnya. Tak ada yang berani mendekatiku dan meminjam padaku. Mereka hanya tersenyum sambil melintas. Entah mereka berpikir mahasiswa sepertiku tak akan memilikinya atau mereka tak berani mengatakannya. Saat itu aku adalah ketua kelas. Ditanganku ada benda yang mereka inginkan tapi mereka hanya melintas dan tersenyum. Secara spontan kubalas senyum mereka. Aku tak begitu suka bercanda. Hampir kebanyakan waktuku kuhabiskan dengan menyendiri sambil mempelajari pelajaran yang akan diajarkan dikemudian hari. Dia kebingungan saat menyadari semua kawannya telah memperoleh apa yang diinginkan. Akhirnya dengan diantar kawanku dia memberanikan diri meminjamnya. Dia begitu shock saat aku langsung memberikannya padanya tanpa banyak berkomentar. kebanyakan kawan akan berkomentar macam-macam sebelum memberikannya dan bahkan ada kawanku yang secara keras menolak. Aku hanya tersenyum sambil mengulurkan benda itu padanya. aku masih ingat dia berkata padaku “akan kujaga sebaik mungkin”. “Semoga bermanfaat” ucapku saat itu. Dia sangat senang dan kawanku yang satunya segera mengingatkannya untuk segera kembali ke kelasnya.
Semenjak itu dia selalu bersikap baik padaku. Aku juga ingat setelah kuliah selesai dia mencariku dan mengatakan kalau pensil yang ada didalamnya rusak karena terjatuh dan terinjak olehnya. Dia tak tahu kalau aku suka menyelipkan pensil mini yang tipis untuk sekedar menambahi catatan atau untuk mengkoreksi apa yang ada. Sebuah kebiasaan yang membuatku selalu banyak tahu akan segala hal. Aku hanya tersenyum padanya saat dia menunjukkan padaku pensil itu. Patah berkeping-keping menjadi 4 bagian. Dia juga memberikan lima buah pensil 2B padaku. Dia menyadari kalau pensil itu tak akan pernah ada ditoko tempat tinggalku. Sejujurnya pensil itu adalah khusus untuk militer yang dipakai untuk membuat strategi. Pensil itu begitu tipis dan mudah dibawa serta bisa disembunyikan. Saat malam tulisannya terlihat jelas. Kondisinya yang tak terlalu kuat memang bisa mudah patah. Aku mendapatkannya dari pamanku. Ku kembalikan pensil 2B itu dan hanya berkata jika aku senang benda yang selalu bersamaku ternyata bermanfaat bagi orang lain. Tentang pensil itu, kukatakan padanya mungkin sudah takdinya harus rusak. Dia memaksaku menerima pensil itu. Tak ada pilihan lain selain menerimanya. Kuterima pensil tersebut yang masih tertata rapi dalam pembungkus pink buatan tangannya tersebut. Tiba-tiba ada kawannya yang mengajak bicara saat itu. Ketika perhatiannya teralihkan dengan cepat kuambil bolpoint dengan tinta warna emas yang selalu ada di sakuku. ‘Semoga tercapai segala cita-cita. Amin’ kutuliskan kalimat itu di pembungkus pensil tersebut sambil secepat kilat meletakannya di sebuah tas kecil yang dipakai untuk menyimpan pernagkat ibadahnya. Setelah itu aku hanya mengusap-usap kepalaku sambil merasa tak pernah melakukan apa-apa. Aku menempelkan jari di mulut pertanda agar kawannya juga bersikap pura-pura tak tahu karena dia tadi melihatku meletakannya. Kawannya segera berlalu sambil tersenyum. Aku pun segera pamit darinya. Sejak saat itu dia selalu menyapaku jika bertemu.
Entah mengapa tiba-tiba aku teringat hal itu. “Apakah Arick tak mau mengajariku bahasa inggris?” dia tiba-tiba terlihat sedih. “Bukan begitu, aku hanya merasa kemampuanku tak lebih baik dari kwan lainnya” ucapku untuk menenangkannya. “Kemarin semua soal dijawab Arick dengan benar. Aku merasa sangat senang kalau arick mau mengajariku”.
Dia kembali membuatku teringat hari kemarin saat aku minta ijin bergabung dengan kelasnya. Entah kenapa aku selalu ingin ikut pelajaran bahasa inggris. Beberapa dosen sangat baik padaku. Aku yang semester satu bahkan pernah diijinkan ikut bergabung disemester Tujuh. Kebanyakan dosenku hanya mengijinkanku ikut di semester tiga. Itu pun akau cuma diperbolehkan mencatat dan tak boleh menjawab kecuali dipersilahkan. Aku selalu setuju hal itu. Aku merasa pelajaran bahasa inggris tak pernah ada yang sulit (mungkin itu hanya perasaanku saja). Dikelasnya aku saat itu diam saja dan baru menjawab saat seluruh kelas tak bisa menjawabnya. Karena hanya berkutat pada grammar, dengan mudah aku bisa menjawabnya. Mungkin hal ini yang membuatnya ingin agar aku mengajarinya.
Sejak pertama kali bertemu dia tak pernah tahu kalau aku sudah sering mengikuti kerjuaran lioga bahasa dalam pelajaran bahasa inggris. Mungkin juga karena aku tak pernah bicara dalam bahasa inggris disaat istirahat meski kawan lain berbicara dengan bahasa inggris. Aku lebih suka memakai bahasa lokal yaitu bahasa jawa halus. Aku membiasakan menggunakan bahasa ini karena ada alasan tertentu yang semoga saja akan dibahas di kemudian hari.
“Baiklah, jika itu yang diinginkan, aku siap membantu” ucapku padanya sambil tersenyum. “Terima kasih Arick” dia memegang tangan kananku dengan kedua tangannya. “Sehabis kuliah akan kuajak kerumahku”, Belum sempat berkata apapun dia sudah melepaskan tanganku dan beranjak menemui kawannya. “Jangan lupa nanti sore Arick” dia menoleh padaku lalu duduk kembali bersama kawannya. Aku tak tahu harus berbuat apa dan hanya terpaku.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Saat melewati Basecamp sebuah UKM, aku penasaran dan melihat dari luar melalui jendela. Tampak Lima orang cewek duduk santai sambil menjelaskan kepada penghuni basecamp. ‘Oh, ternyata sosialisasi dari UKM’ pikirku. Terlihat jelas jika mereka menerangkan tentang sesuatu hal. Mereka adalah kumpulan cewek muslimah yang selalu baik hati (aku selalu berpikir begitu sejak dari dulu). Ketika sosialisasi hampir selesai aku segera beranjak dari tempat itu dan melewati pintu masuk basecamp tersebut. Saat melintas didepan pintu, tiga orang dari mereka melihatku. Aku mempercepat langkah kakiku dan akhirnya sampai di tempat yang sepi diantara kamar mandi dan samping gedung UKM tersebut. Dua dari mereka tiba-tiba menghampiriku. Aku tak tahu kemana yang lainnya. Mungkin langsung pulang. Setelah bertemu denganku salah seorang dari mereka menyapaku. Belum sempat aku menjawab sahabat yang ada disampingnya menangis. Aku bingung. Akhirnya dia yang menyapaku tadi mengajakku ke gedung yang ada dilokasi paling barat yang biasanya dipakai kelas bahasa Indonesia. Kami duduk bertiga di ruang kelas tersebut. karena sudah tak ada mahasiswa lainnya, suasana terasa sunyi dan sesekali terdengar tangis kecil dari seseorang didepanku. Akhirnya kawan disebelahnya menjelaskan padaku kalau aku mirip dengan seseorang yang dulu akan menikah dengan temannya. Hanya saja 6 hari sebelum pernikahan dia meninggal dalam kecelakaan tunggal disebuah jalan raya saat hendak membelikan hadiah. Dia kembali menceritakan jika Kejadian itu sekitar 2 tahun sebelumnya. Kecelakaan itu membuat sahabatnya menjadi shock. Setelah dua tahun kejadian itu barulah sahabatnya mau membuka diri dan kuliah ditempatku menimba ilmu. Sahabatnya yang tadi menangis tiba-tiba memegang bahuku dan semakin deras tangisnya. Kawannya menceritakan jika aku sangat mirip dengan seseorang yang dulu pernah dikenalnya. Aku tahu dia diajarkan untuk tak memegang bahuku. Tapi aku dan kawannya mendiamkannya. Hingga malam hari sekitar jam 8 lebih aku mendengarkan kisahnya. Sesekali aku melihat wajahnya yang kalem. Aku lupa jika hari ini ada seseorang yang menungguku.
Unknown
3/13/2012 10:15:00 AM
Mungkinkah cinta datang tiba-tiba?
Pernah suatu ketika saat berada di kampus pada akhir semester pertama masuk perguruan tinggi di sebuah lembaga tinggi swasta aku berjumpa dengan seseorang yang mengatakan aku mirip sekali dengan sesosok insan yang dulu pernah bersamanya. Aku kaget sekali waktu itu karena aku sama sekali tidak mengenal dia. Bahkan bisa dibilang kami baru pertama kali bertemu. Pertemuan ini adalah tidak disengaja dan terjadi saat aku melintas disebuah basecamp Unit Kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di UNIROW (Universitas Ronggolawe).
Artikel tentang :
cerita cinta,
cinta setia,
kisah cinta,
tiba-tiba cinta,
unirow,
universitas ronggolawe
Tulis Komentar
0 komentar:
Posting Komentar
Ingin mengungkapkan Opini anda? Silahkan tulis pesan anda disini dan saya akan membalas dengan secepat mungkin. Trims. ^__^